Kemarin ,2 oktober 2013 , aku berdiri dengan memandang sebujur tubuh setengah bernyawa dengan baju kas hijau mudanya, dengan terpasang alat bantu pernafasan, pendeteksi detak jantung, dan infus di sebalah kiri, kurus, berbadan kacil, rambutnya yang memutih sudah memenuhi kepalanya, wajahnya pucat, matanya terbuka , tapi kosong, entah apa yang di lihatnya, mamah menyalami mbak Sri yang berduka, mereka berhamburan bercucuran airmata,
" yang sabar ya dek ..." kata mamah sembari memeluknya.
" aku gak akan mengira , simbok secepat ini mbak .... aku sudah pasrah dengan keadaannya"
"ssst... jangan ngomong gitu simbok masi panjang dek, dia masi muda" mamah berkata dengan menahan tangisnya sembari mengusap kedua pundaknya, aku hanya memandang mereka, tak mampu aku menangis, mbak Sri putri dari simbok Tarmi, meski dia tetangga , tapi ketika aku umur 3thn aku diasuh olehnya, jadi sudah seperti saudara.
"tit ... tit ... tit...." suara seperti itu memenuihi ruang seteril ini. suara nafas berat terdengar miris ditelinga.
" yang sabar ya dek ..." kata mamah sembari memeluknya.
" aku gak akan mengira , simbok secepat ini mbak .... aku sudah pasrah dengan keadaannya"
"ssst... jangan ngomong gitu simbok masi panjang dek, dia masi muda" mamah berkata dengan menahan tangisnya sembari mengusap kedua pundaknya, aku hanya memandang mereka, tak mampu aku menangis, mbak Sri putri dari simbok Tarmi, meski dia tetangga , tapi ketika aku umur 3thn aku diasuh olehnya, jadi sudah seperti saudara.
"tit ... tit ... tit...." suara seperti itu memenuihi ruang seteril ini. suara nafas berat terdengar miris ditelinga.
aku menatapnya dengan seksama, mamah mencoba mengadakan respon dengannya, tapi sia sia, matanya terbuka, tapi seperti gelap tak bercahaya, tak mampu melihat apa apa. mungkin seperti ini , ketika kita tak bisa melihat, mungkin seperti ini ketika kita di dekatkan dengan apa yang akan terjadi ketika nanti, aku akan menjadi sepertinya, terbujur kaku dengan nafas yang berat, mata yang tanpa cahaya. takut? iya ... aku juga merasakannya. bukankah kita akan kembali ke sang pencipta? sama seperti ketika kita belum menyadari bahwa kita terlahir.aku masi memandangnya, apa yang dia rasakan? sakitkah? pedihkah? takut? atau apa? aku masi memandangnya, meski tak kuasa aku memandang sosok yang selalu akrab denganku, selalu memberiku sebungkus dawet dan semangkuk jenang di pagi hari. dia selalu memberiku bonus apem ketika ramadhan, kau tau rasanya? sangat enak. dia begitu baik, meski kadang nada bicaranya sedikit tak mengenakkan hati. dan jika kau tau, lontong pecel buatannya sangat istimewa, aku sangat menyukainya. namun sekarang, dia koma, keadaan setengah bernyawa....tak kuasa airmataku terjun bebas dari pelupuk mataku, " maafkan kesalahanku mbok, maaf jika dulu aku merepotkanmu, maaf jika dulu aku pernah membuat sakit hati kepadamu" kataku lirih dengan menahan airmataku yang sulit sekali ku bendung. senyumnya, ramah sapaannya, dan masakannya, akan ku ingat selama ku bisa. ya Allah .... ampuni segala dosanya,berikan kesembuhan kepadanya, ringankanlah sakitnya, aku berdoa lirih dalam hati, dan berharap malaikat mengamini doaku.
mamah tak sanggup melihatnya, dan keluar dari ruang ICU yang menyesakkan dada. aku mengikutinya,menyeka airmata , dan menyembunyikan wajah sembab kami. kami bersalaman , dan saling berpelukan dengan mbak Sri, semoga pelukan kami mampu menguatkan , mampu menjadikan tiang yang membuat hatinya lebih kuat, meski aku tau, tidak telalu membantu.setelahnya kami berpamitan pulang.
Hari ini , 3 Oktober 2013 , simbok kembali kepada pemiliknya, pergi dengan segala kenangan tentang kita, apemnya, es dawetnya, lontong pecelnya, dan jenang grendulnya, semuanya terekam dalam memori satu folder pada otak kiri,. selamat jalan mbok, selamat menjalani hidupmu yang baru , Terima disisinya ya Allah, ampuni segala Dosanya, terangkan jalannya, dia akan menjadi sosok yang tak pernah terlupa.
mamah tak sanggup melihatnya, dan keluar dari ruang ICU yang menyesakkan dada. aku mengikutinya,menyeka airmata , dan menyembunyikan wajah sembab kami. kami bersalaman , dan saling berpelukan dengan mbak Sri, semoga pelukan kami mampu menguatkan , mampu menjadikan tiang yang membuat hatinya lebih kuat, meski aku tau, tidak telalu membantu.setelahnya kami berpamitan pulang.
Hari ini , 3 Oktober 2013 , simbok kembali kepada pemiliknya, pergi dengan segala kenangan tentang kita, apemnya, es dawetnya, lontong pecelnya, dan jenang grendulnya, semuanya terekam dalam memori satu folder pada otak kiri,. selamat jalan mbok, selamat menjalani hidupmu yang baru , Terima disisinya ya Allah, ampuni segala Dosanya, terangkan jalannya, dia akan menjadi sosok yang tak pernah terlupa.

0 komentar:
Posting Komentar